Fenomena Energi Negatif Dalam Diri



by el-maliki
Manusia selain sebagai individu mandiri juga tercipta sebagai mahluk sosial yang pasti butuh pada orang lain, secara kodrati manusia tidak terlepas dari dirinya sebagai maluk individu maupun dari dirinya sebagai mahluk social sehingga sampai kapanpun manusia tidak bisa terlepas dari manusia lainnya begitu pula dengan lingkungannya. Lingkunagan merupakan sisi lain dalam kehidupan manusia yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia dalam membentuk watak serta kepribadian manusia itu sendiri oleh karenanya manusia sering mengalami fenomena kejadian yang melibatkan dirinya, orang lain atau lingkungannya yang menyebabkan berbagai dampak pada kehidupan manusia itu sendiri.


Dampak yang timbul dari hubungan tersebut kadang positif dan kadang negative, contoh orang yang sering bergaul dengan orang baik munkin lama kelamaan dia juga akan ikut menjadi baik demikian pula sebaliknya orang baik tetapi sering bergaul dengan orang tidak baik semakin lama munkin dia juga menjadi  pribadi yang tidak baik atau orang baik tetapi berada pada lingkungan yang tidak baik maka juga berdampak kurang baik pada kepribadian orang tersebut hal ini bisa berlaku sebaliknya pada siapa saja tanpa pandang bulu. Tetapi fenomena kemanusiaan ini sering kali  tidak disadari sehingga perlu untuk membentengi diri dari berbagai kemungkinan agar diri kita bias antisipasi sejak awal.

Ketika kita dekat dengan orang marah secara spontan bawaan kita maunya marah marah tetapi di saat kita marah berusaha mendekat pada orang sabar maka hati kita berkurang rasa emosinya, hal ini menunjukkan bahwa manusia mudah terinfeksi energy orang lain serta  mudah terbawa pada segala sesuatu yang dekat dengan dirinya, maka hendaklah kita senantiasa membentengi diri dengan intropeksi dan mohon perlindungan dari ALLOH dan pandai-pandailah kita memilih teman maupun lingkungan agar selalu waspada terhadap diri sendiri serta tumbuh rasa hati-hati di dalam menjalani kehidupan.

Sering kita jumpai di media cetak maupun elektronik kejadian semisal orang kesurupan, terkena guna-guna atau santet. Kejadian ini sulit untuk di jelaskan secara medis karena sulitnya mencari fakta dari suatu penyebab tetapi pada kenyataannnya ada dampak real yang timbul. Dengan alasan ini banyak timbul berbagai pendapat pro dan kontra tentang fenomena yang terjadi, sehingga muncul golongan orang yang percaya tentang adanya santet dan sejenisnya ada pula orang yang menentang karena di anggap kelenik, tahayyul dan mengada-ada. Di sini saya tidak ingin membahas siapa yang benar karena kedua golongan tersebut sama benar di lihat dari kaca mata nurani yang bijak.

Jika kita amati apa yang terjadi pada diri kita sebenarnya berasal dari prasangka(dzon) pikiran kita sendiri, sejak dahulu Islam sudah menjelaskan hal ini melalui firman ALLOH di dalam sebuah hadist qudsi yang artinya” Aku (menjadikan sesuatu) sesuai dengan prasangka(dzon) hambaku kepadaku “ dari hadist ini sudah bisa kita pahami betapa kekuatan pikiran menjadi salah salah satu faktor di dalam kehidupan. Pada zaman sekarang banyak di kembangkan ilmu yang mendalami tentang kekuatan pikiran semisal hipnotis kesemuanya adalah untuk membentuk dzon yang baik seingga bisa teraplikasi di dalam kehidupan nyata dengan dampak dan hasil yang baik.

Di dalam Islam selalu di anjurkan untuk senantiasa berhusnudzdzon yaitu selalu berpikiran positif terhadap segala sesuatu agar mendapatkan hasil yang positif pula. Dari keterangan ini bisa kita pahami bahwa fenomena santet ataupun kesurupan bisa jadi karena lemah dan negatifnya cara pikir kita sehingga lama kelamaan pikiran tersebut menjadi pola pikir dan keyakinan yang menimbulkan halusinasi sangat kuat. Tetapi pada sisi lain nabi sendiri pernah mengalami sakit yang dalam asbabun nuzul turunnya surat al-Muawidatain di jelaskan karena akibat di guna guna seorang yahudi, dari penjelasan ini saja bisa di pahami bahwa fenomena santet memang pernah ada dan juga perkembangan sihir pernah ada sejak zaman babilon kuno kita tentu masih ingat dengan cerita Harut dan Marut di dalam al-Qur’an, dari seluruh cerita dan fakta yang ada bisa di ambil garis merah bahwa menanggapi fenomena yang terjadi haruslah menggunakan hati dan akal bukan hanya dengan akal saja.

Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berfikir positif dan selalu berdoa meminta perlindungan dari yang maha kuasa agar di hindarkan dari berbagai dzon negative  dan energy negative lainnya. Sesuai penjelasan saya di awal tadi bahwa manusia mudah sekali terinfeksi oleh pikiran negative maupun hal negative dari lingkungan sekitar maka ada cara yang di ajarkan oleh Rosululloh SAW. seperti membaca surat al-Baqoroh atau membaca surat Yasin setelah maghrib dan setelah subuh ataupun membaca surat al-alaq dan an-Nas ketika akan tidur serta selalu membaca ayat kursi di setiap kesempatan yang tempat, kesemuanya itu merupakan upaya dan do’a agar di jauhkan dari berbagai kontaminasi energy negative serta gangguan lainnya.

Semoga apa yang saya sampaikan bermamfaat . amin

Bookmark the permalink.

Leave a reply